Mengawali Wisata Kuliner di Kota Bandung



Seperti yang banyak orang sudah ketahui bahwa Bandung adalah salah satu kota tujuan wisata kuliner di Indonesia. Fenomena ini telah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi orang kebanyakan. Ini adalah satu keuntungan yang sangat saya nikmati dari kuliah di Bandung, karena saya sangat suka jalan-jalan dan menemukan rumah makan atau kafe baru lalu mempromosikannya ke teman-teman saya.

Kalau dihitung dari awal kuliah hingga sekarang (berarti dari tahun 2005 sampai 2007), banyak Tempat Makanan baru bermunculan di kota ini. Mulai dari restoran yang range harganya mahal sampai kafe-kafe yang 'berusaha' memfasilitasi para mahasiswa agar bisa memenuhi kebutuhan 'nongkrong' dan 'kongkow' nya itu tanpa memberatkan kantong mereka.

Daerah Dago (baik dari dago bawah sampai dago pakar), Setiabudi sampai Lembang, sepanjang Jalan Riau, dan daerah lainnya. Dilihat-lihat jaman sekarang kafe di Bandung semakin menjamur. Selain itu, banyak tempat 'nongkrong' yang dilengkapi dengan wi-fi connection, lagi-lagi fasilitas ini melihat kebutuhan banyak orang. Ada juga warung-warung menyerupai kafe yang mencoba menghadirkan pemandangan kota Bandung di malam hari, sebutan populernya city light atau city view. Contohnya ada restoran-restoran dan kafe-kafe di daerah Dago Pakar, atau warung kopi Moko di daerah Cimenyan (Cicaheum atas).

Tidak hanya tempat 'nongkrong' untuk anak muda, aneka rumah makan di Bandung banyak yang bisa dijadikan tujuan wisata kuliner karena sajiannya yang berbeda. Contohnya Bebek Bengawan di Jalan Bengawan. Cara masak bebek di rumah makan tersebut berbeda dengan bebek lain di rumah makan Bebek van Java, misalnya, atau Bebek Boromeus.

Kecenderungan yang saya temui pada Tempat Makanan atau kafe baru di Bandung adalah mereka sering menetapkan tarif yang murah untuk setiap item-nya, tapi hanya pada masa awal pembukaan tempat makan. Contohnya Kafe Le Pakar yang sempat menjadi saingan berat Cloud 9 dengan menyajikan minuman sejenis namun harganya jauh lebih murah. Anak-anak muda sempat 'lari' ke Le Pakar karena harga tersebut, namun seiring waktu, harga di Le Pakar semakin mahal dan kini sama saja dengan Cloud 9. Kini, kafe berkonsep lounge dengan harga murah coba dihadirkan oleh Jack's House yang terletak di daerah Dago Pakar juga.

Contoh lainnya adalah rumah makan Igelanca (yang juga pernah jadi review saya) menyajikan makanan dengan harga sangat terjangkau namun para konsumen dapat menikmati pemandangan kota Bandung di malam hari.

Pada awalnya, hari ini saya ingin meliput Du Chocolat di kawasan Setiabudi, sebuah kafe yang menyajikan aneka jenis kue dan coklat. Ada Chocolate Fonduee yang merupakan favorit saya dan seorang teman ketika masih sering 'nongkrong' di sana. Lalu saya mendengar ada tempat serupa di kawasan Pasir Kaliki Hyper Square, bernama Melted. Sayangnya, ketika tadi sore saya sampai di Du Chocolat, tempat itu tutup untuk hari Rabu.

Akhirnya, saya memutuskan pergi ke Cihampelas Walk dan menjadikan Honeymoon Dessert sebagai review saya yang baru. Yang jelas, Bandung memiliki banyak sasaran yang unik dan membuat saya bersemangat untuk menulis reviews di blog ini. Hehehehehe...

kenyoiskania.multiply.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengawali Wisata Kuliner di Kota Bandung"